SEJARAH TERAPI WICARA

Ikatan Terapis Wicara Indonesia (IKATWI) yang merupakan satu-satunya organisasi profesi yang menaungi terapis wicara di Indonesia memiliki sejarah perkembangan sejalan dengan perjalanan profesi terapi wicara di Indonesia.

Profesi Terapi Wicara pertama kali diperkenalkan di Indonesia sekitar tahun 1971 dengan diselenggarakannya Kursus Speech Corection A dan B (masing-masing 6 bulan). Pada tahun 1973 kursus ini ditingkatkan menjadi program pendidikan 3 tahun.

Peserta program ini adalah lulusan SLTA sebagai mahasiswa tingkat pertama dan mereka-mereka yang telah lulus dari kursus Speech Corection A dan B yang langsung diaterima sebagai mahasiswa tingkat dua. Nama lembaga pendidikan ini adalah Lembaga Pendidikan Bina Wicara. Pada Tahun 1985 lembaga ini berbaur dan bergabung dengan Fisioterapi dan berubah menjadi Akademi Rehabilitasi Medik dengan jurusan Terapi Wicara. Namun sekitar tahun 1987 pendidikan terapi wicara ini berdiri sendiri lagi dengan nama Akademi Speech Therapy. Dan melalui SK Menkes RI No. 221/Kep/Dinakes/XII/88 pendidikan terapi wicara ini resmi dibawah pembinaan Menteri Kesehatan. Begitu juga dengan lulusannya, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Bab II pasal 2, terapis wicara diakui sebagai salah satu jenis tenaga kesehatan yang termasuk kedalam Tenaga Keterapian Fisik bersama-sama dengan fisioterapi dan okupasi terapi.

Sebagai sebuah profesi kesehatan, terapi wicara dituntut untuk memiliki organisasi profesi yang mewadahi tenaga terapis wicara di Indonesia. Cikal bakal berdirinya IKATWI dimulai dengan terbentuknya Ikatan Bina Wicara Indonesia (IKABWI) pada tahun 1975.

IKABWI ini masih merupakan organisasi non formal karena ikatan ini belum memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang merupakan salah satu syarat organisasi disebut sebagai organisasi formal. Pada masa IKABWI ini, belum ada pendataan anggota secara baik, ini dibuktikan belum adanya nomor anggota bagi anggota-anggotanya.

Namun demikian ikatan ini sudah memiliki beberapa program dan kerja sama dengan pihak Depkes. Kepengurusan IKABWI dipimpin oleh Bambang Setyono, Sp.Th.

“Pada tahun 1993 IKABWI berubah nama sekaligus berubah kepengurusan menjadi IKATWI. Sampai tahun 2001, IKATWI ini masih belum memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang disyahkan dalam MUNAS. Namun demikian pada akhir periode ini, pengurus IKATWI berusaha membuat AD/ART yang telah didaftarkan ke Notaris, namun belum mendapat persetujuan dan penetapan dalam Munas. Mulai tahun 1993 sampai tahun 2001 kepengurusan IKATWI dipimpin oleh Dudung Abdurachman, A.Md.TW., S.Pd.

Akhirnya IKATWI baru menjadi organisasi formal setelah pada tahun 2001 memiliki AD/ART yang disyahkan melalui MUNAS I IKATWI di Jakarta. Dan mulai saat itulah dilakukan pendataan dan registrasi anggota sesuai dengan aturan yang tertuang di AD/ART IKATWI. Dan baru saat itu, terapi wicara yang telah menjadi anggota IKATWI resmi memiliki Nomor Anggota yang tercantum dalam kartu anggotanya.

Pada tanggal 10 – 12 November 2007 IKATWI kembali mengadakan Musyawarah Nasional II yang diselenggarakan di Surabaya. Dalam Munas ini dilakukan perubahan Anggaran Dasar dan Anggran Rumah Tangga, Perbaikan Kode Etik Terapi Wicara, Penetapan Program Kerja dan pemilihan Ketua Umum IKATWI periode 2006 – 2011. Pada Munas II IKATWI di Surabaya, dipilih dan ditetapkan kembali Kadek Pandreadi, A.Md.TW., S.Pd.,MM sebagai Ketua Umum DPP IKATWI untuk periode 2006 -2011 melanjutkan kepemimpinan periode sebelumnya. Tema yang diambil dalam Munas II IKATWI di Surabaya adalah ” Melalui Munas II IKATWI, Terapis Wicara Indonesia Siap Memasuki Era Kebangkitan “. Tema ini dibuat sehubungan mulai tahun 2007, telah bertambah 2 (dua) lagi Institusi Pendidikan Terapi Wicara yang ada di Poltekkes Surakarta dan di Poltek Al Islam Bandung. Sehingga sampai tahun 2007 sudah ada 3 (tiga) institusi pendidikan Terapi Wicara di Indonesia. Musyawarah Nasional IKATWI yang ke III diselenggarakan di Jakarta, pada hari/tanggal : Jum’at – Minggu, 06 – 08 Juli 2012 dengan mengusung tema “MUNAS III Sebagai Momentum Peningkatan Profesionalisme Terapis Wicara Indonesia di Era Globalisasi”. Selanjutnya melalui Keputusan Munas NO. : 06/ MUNAS III/VII/12 memilih dan menetapkan Dwi Suharyana, A.Md.TW., S.Pd sebagai Ketua Umum DPP IKATWI untuk periode 2012 -2017.

“Selanjutnya pada Musyawarah Nasional IKATWI yang ke IV diselenggarakan di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari/tanggal : Jum’at – Minggu, 25-27 Agustus 2017 dengan mengusung tema “MUNAS IV Sebagai Menuju Terapis Wicara Indonesia yang Mandiri dan Profesional” . Selanjutnya melalui Keputusan Munas NO. : 01/ MUNAS IV/VIII/17 memilih dan menetapkan Waspada, A.Md. TW. Sebagai Ketua Umum DPP IKATWI untuk periode 2017 – 2022.”